Sejarah Peradaban: Mengenal Norbert Elias Dalam Perkembangan Sosiologi di Indonesia

images

Pada artikel Norbert eliaas dengan judul “Technizaation and civilization (1995)” elias mengartikan civilization sebagai pemberadaban (civilizing process), sebuah proses masyarakat menuju beradab. Proses pemberadaban tidak lebih dari suatu usaha pengteknikan(teknization)yang jauh dari tindakan beradabbahkan cenderung biadab (decivilized)karena kerap kali usaha pemberadaban dilakukan secara dominative, bahkan kekerasan pada suatu kelompok pada kelompok lain (Smith 2001).  Norbert elias diakui sebabagai salah satu sosiolog abad ke-20 yang memiliki pengaruh yang kuat, tidak hanya di inggris, Universitas Leicester tempat dia mengajar, tetapi juga di Jerman, Perancis dan belanda. Norbert elias diakui telah mampu membuka kebuntuan Sosiologi dengan menawarkan formula untuk menangani dikotomi makro-mikro atau struktur Agen dalam teori sosal Anthony giddens “strukturasi”, bourdieu dengan konsep “habitus”, dan Elias dengan “figuration”.

Kemunculan  nama Norber Elias dalam teks Indonesia yang populer adalah melalui karya George Ritzer dan goodman (teori sosiologi modern) menjelaskan tentang sosiologi figurasional (2004;488-502). Dalam menguraikan tentang sosiologi figurasional, Elias menguraikan konsep itu masih sangat minim.

Biografi Norbert Elias

download (1)

Norbert elias lahir pada 22 juni 1997 di Breslau, waktu itu masuk dalam imperium Jerman (kini menjadi warclow, polandia). Elias anak tunggal dari pasangan suami istri Herman dan Sophie elias, sebuah keluarga Yahudi kelas menengah pengusaha tekstil  yang lumayan mapan, saat memasuki Johannes Gymnasium, Breslau (1907 &1914), elias mulai membaca karya-karya Immanuel khant, dan beberap karya klasik Jerman yang lain seperti Schiller, Ghoethe dan Heine. Elias bercita-cita menjadi seorang ilmuan sekaligus juga sadar bahwa identitas yahudi akan menjadi penghalang besar untuk merintis kariernya. Selain di Gymnasium, Elias juga mengikuti wajib militer pada 1915, dia bertugas sebagai perawatan jaringan telegram dilini depan pertempuran diperbatasan perancis, setelah usai perang pada 1918, Elias memulai kuliah Universitas Breslau, dengan jurusan kedokteran dan filsafat sekaligus. Akan tetapi dalam prosesnya Elias meninggalkan kuliah kedokteran dan memutuskan untuk focus pada filsafat dan analisis Sosiologi. Ritzer & Goodman (2004; 492) kuliah kedokteran bagi Elias telah banyak memberikan pemahaman tentang keterhubungan antara fungsi dari berbagai organ  tubuh manusia dan pemahaman manusia tentang fungsi yang membentuk pola interaksi. Elias juga sempat mengambil beberapa kuliah filsafat di Universitas Freiburg dan Universitas Heidelberg bersama dosen-dosen ternama seperti Heinrich richkert, Karl jaspers dan Edmund Husserl. Elias meraih doctor pada tahun 1924 dengan desertasi berjudul  Idee und Individuum: Eine kritische unter suchung zum begriffder geschichte (ide dan individu: sebuah kontribusi untuk filsafat sejarah).

Pada tahun 1935, yang kurang mahir berbahasa Inggris berlayar ke London, dia bekerja di Britis museum, elias merasa sangat senang karena bisa mengakses koleksi literature yang sangat kaya, dan mulai menulis dua jilid Uber den prozeb der civilization (the civilizing process)  selama tiga tahun. Bersamaan dengan selesainya naskah bahasa Jerman The civilizing process pada akhir 1938, Herman dan Sophie  Elias mengunjungi anaknya ke Inggris, akan tetapi Elias mencoba merayu kedua orang tuanya untuk tinggal di Inggris, akan tetapi rayuannya tidak berhasil, mereka memilih untuk kembali ke Breslau. Dua tahun setelah itu, ibunya mengabarkan tentang kematian bapaknya. Tidak lama kemudian terdengar kabar Sophie Ibunya pun meninggal di kamp kosentrasi di Auschwitz sekitar tahun 1941. Elias mengalmi shock berat dan trauma, dan bayangan penderitaan ibunya di Auchwitz terus menghantui Elias (Smith 2001) kondisinya demikian turut mengganggu karir akademik Elias. Tahun 1954 Elias meninggalkan London menuju Leicester untuk memulai karir akademis.

Pada tahun 1989 dia ke Udinese, Italia untuk menerima penghargaan Italian nonio prize untuk buku the society of individual, dan juga mendapatkan penghargaan dengan buku yang sama pada 1987.  Pada Tanggal 1 Agustus 1990 di siang hari musim panas di Amsterdam, Norbert Elias meninggal di kursi kerjanya, karena penyakit infeksi paru-paru, dia menutup usia pada umur 93 tahun.

Perkembangan Sosiologi: Norbert Elias

Tidak semua murid dan kolegan Elias di Inggris memahami gagasa sosiologisnya, dibeberapa Negara di Eropa yang lain, pengaruh Elias terlebih dahulu menyebar luas seperti di Jerman, Belanda, dan Perancis. Hal ini terjadi disebabkan oleh keterlambatan penerjemahan karya-karya Elias kedalam bahasa Inggris, dan minimnya intelektual Inggris yang menguasai bahasa Jerman. Sementara karaya-karya Elias kebanyakan ditulis dalam bahasa Jerman (Quilley & loyal 2004).

Menurut Ritzer dan Goodman (2004), ada beberapa hal lain yang menyebabkan keterlambatan tersebarnya gagasan dan karya-karya Elias, yaitu waktu penerbitan karya Elias dalam bahasa Inggris tersebut bersamaan momentum perkembangan gelombang arus pemikiran post modern yang tidak terlalu suka dengan gaya penulisan Elias yang sangat klasik. Sementara para intelektual Inggris masih awam dengan gagasan Elias, sementara di Belanda bahasa Jerman masih serumpun sehingga mudah menyerap gagasan Elias.

Menurut Smith (2001) mencatat popularitas Elias baru mulai meningkat setelah dia meninggal dunia, dengan menggunakan data dari social science citation index (SSCI), sejak 1981 terjadi peningkatan secara drastic terhadap jumlah publikasi yang mengambil rujukan utama dari karya elias. Antara tahun 1997 dan 1998 terdapat 39 publikasi yang menggunakan sebagai rujukan utama. Sementara yang mengabil sebagai kutipan langsung pada tahun 1996 mencapai 149 publikasi. Momentum globalisasi gagasan Elies baru terjadi pada 1977 ketika mendapat Theodore adorno prize karena bukunya uber denprojeb der zivilisation (the civilizing process) (smit 2001). Pada tahun yang sama juga diangkat menjadi Profesor emeritus di Universitas Frankfurt.

Sosiologi Elias sering disebut sebagai sosiologis figurasional (figurational sociology) sekalipun Elias lebih senang dengan menggunakan istilah sosiologi proses (process sociology).

Loyal (2006) menuliskan empat proposisi dasar dalam sosiologi Elies;

  1. Manusia dilahirkan dalam interdependen sehingga struktur social yang mereka susun bersama manusia lain memunculkan dinamika-dinamika yang nyata, yang tidak dapat di sederhanakan dalam analisis tindakan atau motivasi individual. Segala proses tersebut membentuk pertumbuhan dan perkembangan individu.
  2. Figurasi-figurasi (hubungan independen) social tersebut berada dalam arus dan perubahan yang relative stabil.
  3. Perubahan jangka panjang dari figurasi social manusia kebanyakan tidak terencana dan tak terlihat.
  4. Perkembangan pengetahuan terjadi dalam beberapa figurasi dan membentuk suatu pemahaman yang menyeluruh.
  5. Namun smith (2001) menambah proposisi kelima yaitu karakter utama dalam social eropa selama satu milenium terakhir menunjukan kecenderungan meningkatnya tekanan social dan figurasi dengan monopoli yang relative stabil yang terkait dengan meningkatnya control social disegala bidang.

Quilley dan loyal (2004) mengkategorikan tema karya sosiologis Elias menjadi tiga bagian besar: sosiologi pengetahuan (sociology of knowledge), sosiologi figurasional (figurational sociology) dan sosiologi sejarah (historical sociology).

Peradaban dan pemberadaban

download

Perbedaan konsepsi peradaban (civilization) dengan budaya (culture) menjadi topic serius bagi Elias, sehingga dalam bab pembuka the civilizing process (Elias 2000). Saat seseorang mengucapkan bahwa sebuah komunitas belum berbudaya, bisa jadi yang ada dibenak orang itu bukanlah konsepsi tentang budaya, melainkan peradaban. Peradaban yang muncul adalah sebuah tahapan bahwa manusia atau masyarakat sedang menuju pada suatu tahap yang lebih beradab (kemajuan) atau semakin meninggalkan keberadaban (kemajuan). Kata peradaban berprestasi untuk mengukur derajat moralitas dari suatu komunitas, tingkat dari keberadaban dari suatu kebudayaan.

Elias mengajak para sosiolog untuk juga masuk kedalam diskusi tentang moral dan etika dalam masyarakat, tidak berkutat pada perihal modernisasi (proses menuju yang modern/baru). Pokok perhatian Elias bukan pada modernisasi atau pembudayaan, melainkan pada proses pemberadaban untuk mewujudkan suatu peradaban (bauman 1979). Elias juga mengkritik superioritas Eropa/barat vis-a vis budaya non-barat, inilah yang menjelaskan pembenaran kolonialisme bangsa Eropa/barat dalam kerangka ideologis memberadabkan bangsa-bangsa yang belum beradab yang dijadikan koloni mereka. Elias juga menelusuri rejim kesopanan dan pola-pola pembudayaan sebagai suatu proses yang dilakukan tampa dosa tindakan kejam yang dilakukan dianggap sebagai pekerjaan mulia, oleh bangsa superior.

Analisa sosiologis Elias menyebutkan dua hal penting, yaitu kondisi psikologis (psychogenesis) dan kondisi social (socio genesis) yang perlu diperhatikan betul oleh para sosiolog dalam melakukan study tentang proses pemberadaban. Sekalipun proses social sudah sangat mendukung lahirnya peradaban, namun selama kondisi psikologis belum siap, maka peradaban hanyalah sebuah utopia. Akan tetapi jika kondisi psikologis sudah siap namun social belum, maka lahirlah peradaban yang premature yang membutuhkan tambal-sulam diberbagai sector.

Beberapa catatan kritis

Konsep pemberadaban sekalipun menjadi kritik kelompok modernis dan kelompok postmodernis,pemberadaban jelas mengkritik kecepatan laju modernisasi dalam mewujudkan sebuah modernitas (modernity). Jika melihat pada sejarah manusia, maka gerak peradabanlah yang sesungguhnya membuat manusia lain menderita. Jika manusia kembali ke “keadaan semula”, manusia akan kembali bahagia, suatu Romantisme. Kesadaran ini diperkuat dengan pengalaman empiris, bahwa peradaban memang merusak; pembangunan ekonomi yang merusak alam, penemuan energy dan sumber energy yang merusak alam, dan manusia. Romantisme saat masa lalu itulah yang di idam-idamkan oleh manusia modernyang mengalami kejenuhan daan frustasi akibat laju modernisasi yang bergerak tampa control. Peradaban yang dicita-citakan oleh modernisasi ternyata tidak membawa manusia pada suatu kondisi yang beradab bahkan kecenderungan tidak beradab (uncivilized).

Kritik para pengusung postmodernisme atas modernism adalah kenyataan bahwa modernisasi atau pembangunan yang mengklaim diri sebagai gerak netral atau apolitis ternyata dalam prakteknya justru digerakan oleh kepentingan-kepentingan politik terselubung dan hegemonik. Gerakan postmodernisme adalah gerak dekonstruksi atas segala narasi tampa adanya suatu kesepakatan tentang masyarakat apa yang dicapai setelah didekonstruksi. Elias memperhatikan paradox proyek pemberadaban yang dilakukan bangsa eropa pada era kolonialisme tidak lebih dari pola pengteknikan (Elias 1995). Pengteknikan merupakan suatu gerak yang mengabaikan bahwa manusia atau kelompok yang lain itu memiliki standar dan kondisi peradaban yang berbeda. Bagi Elias (2000) Gerak pemberadaban bukanlah gerak modernisasi yang selalu berjalan linear atau lurus, gerak pemberadaban kadang maju, kadang mundur, berjalan ditempat, melompat dua tahap atau bahkan bisa menjadi mundur teratur.

Teks-teks sosiologi kerap menggunakan konsepsi modernitas dan modernisasi sebagai tema sentralnya dalam rangka mengarahkan perubahan social dalam masyarakat.laju pemberadaban tidak boleh bergerak melalui pengteknikan karena gerak pemberadaban semacam itu tidak beda dengan sebuah usaha pembiadaban. (Journal oleh: Anton Novenanto).

Penulis: Araihan

Pengelana Sosio-Logos

Advertisements

Hello world!

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!